Gado Gado Plus yang ditawarkan pasangan Nurjannah dan Dwi Kuncoro kini menjadi sorotan setelah pesanan di Shopee Food disebut-sebut membludak. Resep turun-temurun keluarga yang mereka pelihara sejak dekade 1980-an itu berubah menjadi andalan ekonomi rumah tangga mereka.

Usaha gado-gado yang dijalankan oleh Nurjannah (48) yang akrab disapa Ummi Labib dan suaminya Dwi Kuncoro (47) atau dikenal sebagai Babah Fina bukan sekadar bisnis kuliner biasa. Dari dapur keluarga, resep lama menghasilkan aliran pesanan yang membantu menopang keluarga di masa sulit.
Gado Gado Plus: Warisan Resep Keluarga
Resep gado-gado yang menjadi andalan pasangan ini merupakan warisan keluarga yang telah dilestarikan sejak tahun 1980-an. Kualitas bumbu dan cara penyajian yang dipertahankan lintas generasi menjadi pembeda produk mereka. Makanan tradisional itu diproduksi dengan pola rumahan yang berpegang pada resep asli demi menjaga cita rasa otentik.
Dari PHK ke Peluang Baru
Perubahan besar dalam kehidupan rumah tangga pasangan ini bermula pada 2019, ketika Babah Fina kehilangan pekerjaan akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Keadaan tersebut mendorong mereka untuk menekuni usaha gado-gado sebagai sumber penghasilan utama. Langkah itu bukan sekadar pengalihan profesi, melainkan upaya memanfaatkan kearifan lokal keluarga untuk mengatasi tekanan ekonomi.
Pesanan Membludak melalui Platform Pengantaran
Masuknya gado-gado buatan keluarga ke platform pengantaran makanan menjadi titik balik bagi usaha mereka. Platform tersebut membuka akses pasar lebih luas sehingga pesanan meningkat dan perhatian pelanggan bertambah. Lonjakan permintaan ini menempatkan usaha kecil mereka pada fase baru, di mana produksi dan pelayanan harus disesuaikan dengan volume pesanan yang lebih besar.
Baca juga: Gado Gado Plus Pesanan Membludak di Shopee Food, Warisan Resep Turun Temurun Jadi Penopang Keluarga
Menjaga Kualitas di Tengah Permintaan Tinggi
Meskipun mengalami peningkatan pesanan, pasangan ini menegaskan pentingnya menjaga konsistensi rasa dan kualitas. Resep turun-temurun yang menjadi dasar usaha mereka harus tetap dipertahankan agar cita rasa gado-gado tidak bergeser. Keseimbangan antara memenuhi permintaan dan menjaga kualitas menjadi tantangan utama yang mereka hadapi sehari-hari.
Perubahan skala usaha memaksa pasangan tersebut melakukan adaptasi pada proses produksi tanpa mengorbankan ciri khas resep keluarga. Kejujuran terhadap bahan baku, teknik pengolahan, serta komitmen mempertahankan cita rasa menjadi landasan operasional yang dijalankan demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Di sisi lain, meningkatnya pesanan memunculkan kebutuhan untuk manajemen yang lebih rapi dalam hal pengemasan dan pengiriman. Meski demikian, inti usaha tetap pada kualitas resep yang diwariskan oleh keluarga selama puluhan tahun.
Usaha gado-gado ini bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga sarana mempertahankan identitas kuliner keluarga. Bagi Nurjannah dan Dwi, mempertahankan resep asli berarti melestarikan ingatan dan tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Komunitas pelanggan pun menjadi bagian dari perjalanan usaha kecil tersebut. Respon positif dari pembeli memberi dorongan moral sekaligus tantangan agar produk tetap konsisten. Dalam kondisi ekonomi yang tak menentu, usaha kuliner berbasis resep keluarga seperti ini sering kali menjadi penopang utama bagi banyak rumah tangga.
Ke depan, pasangan ini dihadapkan pada pilihan untuk terus mengembangkan usaha sambil mempertahankan nilai-nilai tradisional yang melekat pada resep. Bagaimanapun, kesinambungan usaha sangat bergantung pada kemampuan mereka menyeimbangkan aspek bisnis dan pelestarian cita rasa keluarga.



