kesehatan gigi - ilustrasi berita Kesehatan gigi masih tinggi: 56,9% alami masalah, hanya 11,2% dapat perawatan
Healthy Lifestyle

Kesehatan gigi masih tinggi: 56,9% alami masalah, hanya 11,2% dapat perawatan

Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap kesehatan gigi. Hasil survei mencatat bahwa 56,9% penduduk berusia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut, sementara perawatan yang diterima dari tenaga kesehatan gigi hanya mencapai 11,2%.

kesehatan gigi - ilustrasi berita Kesehatan gigi masih tinggi: 56,9% alami masalah, hanya 11,2% dapat perawatan

Angka ini menegaskan adanya kesenjangan antara kebutuhan perawatan dan akses terhadap layanan gigi. Meski masalah gigi dan mulut bersifat luas, cakupan layanan profesional yang terbatas berpotensi memperparah kondisi kesehatan masyarakat jika tidak ditangani secara terencana.

Kondisi kesehatan gigi menurut SKI 2023

Survei mencatat lebih dari separuh populasi usia tiga tahun ke atas mengalami gangguan pada gigi dan mulut. Persentase yang tinggi ini mencerminkan beban penyakit mulut yang signifikan di kelompok usia yang luas, dari anak-anak hingga orang dewasa. Di sisi lain, proporsi yang mendapatkan intervensi formal dari tenaga kesehatan gigi relatif kecil, yakni 11,2% dari mereka yang bermasalah.

Dampak kesehatan dan sosial

Masalah gigi dan mulut yang tidak ditangani dapat berdampak pada kualitas hidup, antara lain menurunnya kemampuan makan, rasa sakit kronis, gangguan tidur, serta berkurangnya kepercayaan diri. Pada anak-anak, kondisi mulut yang buruk juga dapat memengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan umum. Karena cakupan perawatan profesional masih rendah, banyak kasus yang berisiko berkembang menjadi kondisi kronis atau memerlukan tindakan lebih kompleks di kemudian hari.

Penyebab rendahnya akses perawatan

Hasil survei mengindikasikan adanya kesenjangan antara kebutuhan dan pemanfaatan layanan kesehatan gigi, namun SKI 2023 tidak merinci semua faktor penyebabnya. Secara umum, beberapa hambatan yang biasa terkait dengan rendahnya pemanfaatan layanan antara lain ketersediaan fasilitas, jangkauan tenaga kesehatan gigi, kemampuan ekonomi, serta pemahaman masyarakat tentang pentingnya perawatan preventif. Hambatan-hambatan ini perlu dianalisis secara mendalam di masing-masing wilayah agar intervensi dapat tepat sasaran.

Upaya pencegahan dan perbaikan layanan

Dalam kondisi seperti yang diungkap SKI 2023, upaya pencegahan menjadi bagian penting dari strategi penanggulangan masalah kesehatan gigi. Promosi kebersihan mulut, penyuluhan perilaku hidup bersih, serta penerapan program pencegahan pada anak dan kelompok rentan perlu diperkuat. Selain itu, memperluas akses layanan dasar gigi melalui fasilitas kesehatan primer dan meningkatkan distribusi tenaga kesehatan gigi dapat membantu menutup kesenjangan perawatan.

Peran kebijakan dan pemangku kepentingan

Pemerintah daerah, penyedia layanan kesehatan, serta masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menanggulangi tingginya prevalensi masalah gigi dan rendahnya cakupan perawatan. Kebijakan yang mendukung pelatihan tenaga, alokasi fasilitas, serta integrasi layanan gigi ke program kesehatan primer akan meningkatkan keterjangkauan. Selain itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan dan sosial, penting untuk memperkuat upaya promotif dan preventif.

Temuan SKI 2023 menjadi pengingat bahwa peningkatan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan gigi tidak hanya soal menambah fasilitas, tetapi juga menyangkut pendekatan komprehensif yang melibatkan edukasi, pencegahan, dan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan lokal. Mempersempit jarak antara mereka yang memerlukan perawatan dan layanan yang tersedia menjadi tantangan utama yang perlu diatasi agar beban penyakit mulut dapat berkurang di masa mendatang.

Dimas Arvin Nugroho Pratama Membahas dunia kebugaran, aktivitas fisik, olahraga ringan, hingga strategi hidup aktif untuk mendukung kesehatan jangka panjang.