Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan keluarga dua santri dibakar di lingkungan pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menghadapi kendala biaya untuk menjalani perawatan medis. KPAI menyoroti kondisi keluarga yang saat ini fokus pada pemulihan fisik anak-anak namun terbentur kemampuan finansial.

KPAI mengungkapkan situasi tersebut saat menindaklanjuti kasus dua santri korban pembakaran yang diduga dilakukan oleh senior di lingkungan pesantren. Lembaga itu menekankan pentingnya pemulihan korban dan perlunya dukungan agar proses pengobatan tidak terhambat oleh masalah biaya.
Santri Dibakar dalam Sorotan Publik
Berdasarkan keterangan KPAI, keluarga korban saat ini mengutamakan pemulihan fisik anak-anak yang mengalami luka akibat insiden pembakaran di pondok pesantren. Fokus pada pemulihan mencakup proses perawatan yang berkelanjutan untuk mengatasi dampak medis yang dialami oleh kedua santri tersebut.
KPAI menilai penanganan medis yang tepat menjadi prioritas utama agar korban dapat pulih secara fisik dan psikologis. Lembaga ini juga mencatat bahwa keterbatasan biaya dapat memperlambat akses terhadap perawatan yang memadai, sehingga berpotensi mempengaruhi proses pemulihan jangka panjang.
Hambatan biaya pengobatan yang dihadapi keluarga
KPAI menyampaikan bahwa kendala biaya menjadi salah satu hambatan signifikan yang dihadapi keluarga korban. Belum cukupnya biaya menimbulkan kekhawatiran mengenai kelanjutan perawatan, terutama bila diperlukan tindakan medis lanjutan atau rehabilitasi yang memakan waktu dan biaya.
Dalam situasi seperti ini, KPAI mencatat perlunya perhatian terhadap mekanisme pendanaan perawatan korban anak, sehingga keluarga tidak harus menanggung beban yang dapat menghambat proses pemulihan dan pemulihan sosial korban.
Permohonan dukungan dan perlindungan anak
KPAI mendorong agar semua pihak terkait mempertimbangkan kebutuhan mendesak keluarga korban, termasuk pemberian dukungan akses layanan kesehatan dan pemulihan. Lembaga itu menegaskan perlunya koordinasi antarinstansi untuk memastikan anak korban mendapatkan perawatan yang layak tanpa terganggu oleh persoalan biaya.
Selain aspek kesehatan, KPAI juga menggarisbawahi pentingnya perlindungan anak dalam proses penanganan kasus, agar hak korban atas pemulihan, keselamatan, dan keadilan dapat terpenuhi. Langkah-langkah yang diarahkan pada perlindungan anak diharapkan membantu meminimalkan dampak jangka panjang dari kejadian tersebut.
Tindak lanjut dan pengawasan
KPAI mencatat perlunya tindak lanjut yang komprehensif terhadap kasus ini, termasuk pengawasan terhadap proses perawatan korban dan penanganan hukum apabila diperlukan. Pemantauan dianggap penting untuk memastikan hak korban terpenuhi dan keluarga menerima dukungan yang memadai selama proses pemulihan.
Lembaga pengawas perlindungan anak juga menilai bahwa koordinasi antara pihak pesantren, keluarga, aparat kesehatan, dan instansi terkait harus berjalan efektif agar penanganan korban tidak terputus dan setiap kebutuhan medis maupun psiko-sosial dapat terpenuhi.
Harapan keluarga dan rekomendasi KPAI
Keluarga korban, menurut KPAI, saat ini berfokus pada pemulihan fisik anak-anak mereka dan berharap mendapatkan bantuan agar proses pengobatan dapat berlangsung tanpa hambatan. Harapan ini termasuk akses perawatan yang berkelanjutan dan dukungan yang meringankan beban biaya.
KPAI merekomendasikan agar upaya pemulihan korban diprioritaskan dan diikuti dengan langkah-langkah perlindungan yang memadai. Lembaga tersebut menyerukan agar pihak berwenang dan para pemangku kepentingan memastikan keluarga korban tidak menghadapi kendala administrasi atau finansial dalam mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan anak-anak mereka.
KPAI menegaskan pentingnya perhatian dan dukungan nyata untuk memenuhi kebutuhan pemulihan korban serta memastikan agar proses penanganan kasus berjalan transparan dan berpihak pada pemenuhan hak anak.



